Senin, 07 Agustus 2017

Teruntuk tiga minggu paling berharga

tiga minggu kemarin cukup nano-nano bagi saya. meski begitu, tidak seperti permennya yang mostly 'asam', pengalaman saya kemarin mostly 'manis'. :) kalau boleh dideskripsikan dengan satu kalimat, mungkin saya akan memilih: "Ya Allah, saya sangat bersyukur."

Ah, tapi masa cuma satu kalimat? Kalau bisa, saya mau membuat satu novel yang isinya cuma mereka-mereka. Iya, mereka, tiga puluh orang paling inspiring, paling sengklek, paling emo, paling berisik, paling bertanggungjawab, paling "parentable" yang pernah saya temui.

Semuanya bermula dari saya yang gak sengaja nemu postingan KM ITB di timeline line, isinya kurang lebih: "Dibuka oprec untuk peserta KKN Tematik ITB!" Saya ,yang kemakan cerita seru tentang KKN di novel yang pernah saya baca, pun tertarik untuk daftar. Oh, plus rumor-rumor yang katanya KKN itu ladang jodoh (LOL) membuat saya dying to join. Detik berikutnya, saya langsung [tap, tap, scroll, scroll] share ke grup teman2 deket untuk juga join KKN. Ternyata, hanya saya sendiri yang cukup tertarik untuk benar-benar mendaftar. Yah, syarat pendaftarannya emang cukup ribet sih.

Cukup sial sih proses pendaftaran waktu itu. Gak juga deng, sayanya aja yg terlalu deadliner to function tbh lol saya baru mencari dosen untuk diminta persetujuan di H-3, dan di luar ekspektasi, dosen slowres, dan susah ditemui di ruangannya. Jadi lah, di hari-H deadline pengumpulan berkas saya mesti menahan keinginan untuk KKN ini.

Saya ingat, hari Jumat siang itu, saya mengeluh2 di kamar kos teman saya, saya ingat saya bilang, "sumpah, kalo KKN diperpanjang pendaftarannya gw bakal jadi manusia terbahagia sedunia." Beberapa menit kemudian, saya pun menemukan kalau doa saya yang satu itu langsung terjabah. Pendaftarannya diperpanjang satu minggu!!

Minggu-minggu berikutnya, saya mengikuti kelas KKN yg mostly isinya tentang manajemen proyek dan basic-basic pengabdian masyarakat. Sangat menarik, kelas yang sangat beda dengan kuliah-kuliah lain yang pernah saya ikuti. Walau capek, setidaknya saya benar-benar mendapatkan ilmu baru. Waktu itu, saya sudah cukup bersyukur dengan takdir Tuhan yang mengizinkan saya berada di sini. Setiap kelas selesai, selalu ada mentoring dengan mentor tema dan peserta-peserta setema lain. Sayangnya, saat itu, saya belum menemukan "bonding" yang cukup signifikan dengan mereka.

Oiya, belum diceritakan. KKN ITB ini basisnya tematik, ada empat tema yang akhirnya fix diterapkan di desa binanya, Desa Cipakem, Kuningan. Ada tema pendidikan yang intinya meningkatkan motivasi sekolah2 dan juga pelatihan manajemen di karang taruna dan pkk (aku ikut yg ini, btw!), tema infrastruktur yang membuat sanggar seni, tema air yang mengoptimalkan mata air2 desa yang belum maksimal fungsinya, dan juga tema eco agro yang fokus pada aspek pertanian/perkebunan desa.

Tema Pendidikan ini berisi kurang lebih tiga puluhan peserta+mentor. Mereka-mereka yang sengklek, emo, dll yang saya ceritakan di atas itu ya mereka-mereka ini. Teman setema saya. Ah, coret kata teman, saya lebih suka kata 'keluarga'. Hehe.

Setelah kelas-kelas yang berlangsung kurang lebih dua bulan(?) itu, rangkaian persiapan KKN ditutup dengan outbound yang melibatkan semua peserta dan panitianya. Waktu itu pun, saya masih jarang bertemu dengan teman setema saya, lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang lain. 

Meski begitu, outbound ini, give or take, benar-benar mengubah saya. Saya yang sangat penakut dipaksa berjalan di atas tali tanpa pengaman. Di bawah sebenarnya ada "bantalan" air sungai yang dalamnya dua meter lebih, tapi itu pun sama sekali tidak membuat saya merasa lega. Saya adalah orang paling tidak bisa berenang yang pernah saya kenal.

Jadi, satu-satunya cara selamat adalah untuk jalan terus di atas tali. Mau semenyeramkan apapun itu. Kalau saya tidak mau mati tenggelam, saya cuma bisa jalan terus. Saat berjalan, lutut saya gemetar hebat, langkah saya sangat pendek-pendek. Saya takut. Sejujurnya, sangat takut. Yang bisa menahan saya di atas tali waktu itu hanyalah kata "ITB!" yang saya teriakan setiap beberapa langkah, mengingatkan saya bahwa saya masih mahasiswi dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, masa begini aja nyerah?

Akhirnya, saya sampai di ujung. Dengan selamat. Tidak bermandikan air sungai, tidak basah, meski telapak tangan berkeringat sedikit. Ah, mau orang berkata apa, saya bangga dengan diri saya sendiri. Saat itu saya sadar, ketika saya takut, meskipun saya benar-benar takut, this too shall pass. Sekali lagi, meski takut, saya hanya harus menjalaninya.

Bagi orang lain mungkin pengalaman itu tidak terlalu signifikan, tapi saya benar-benar menghargai setiap inci perubahan dalam diri saya. Saya, yang selalu melarikan diri dari konflik, menemukan salvation dari dua utas tali dan beberapa liter air kotor. Lagi-lagi, entah untuk keberapakalinya, saya bersyukur kepada Tuhan atas takdir-Nya. Saya bersyukur, sangat.

Semoga saya selalu ingat. Semoga kata-kata itu tertanam di dalam ubun-ubun saya. Bahwa ketika saya takut, saya hanya harus menjalaninya. Karena ketika saya takut dan masih berusaha menjalaninya, saya akan mencapai sesuatu. Akan. Pasti, akan.

Semoga saya selalu ingat, ya Tuhan.

Ah, sudah panjang. Batre laptop juga tinggal 15%. Saya pun dari kemarin belum juga membeli masker untuk muka saya yang belang pasca KKN haha. Jadi, lanjut ya kapan-kapan! Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin setengah jam lagi :P Dadah for now!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar